Follow Up Intermediate Leadership Training bersama Komunitas Kalimetro Malang

Selasa, 15 Januari 2019 11:34 WIB

Foto Bapak Lutfi J. Kurniawan, S. Sos (tengah kemeja putih) bersama seluruh peserta diskusi. (Dokumen penulis)

Kemarin (13/1) telah dilaksanakan kegiatan diskusi dan belajar bersama antara UPT P2KK dengan komunitas Kalimetro. Kegiatan yang dilaksanakan di kedai kopi sekaligus markas atau padepokan komunitas Kalimetro ini dimaksudkan sebagai bentuk follow up kegiatan Intermediate Leadership Training yang telah dilaksanakan pada bulan September 2018 lalu. Kegiatan ini diikuti oleh para trainer, staf kesekretariatan, beserta para peserta terbaik P2KK periode 2017/2018.

Diskusi ini langsung dibuka oleh Bapak Dr. Khozin, M. Si selaku Kepala UPT P2KK. Dalam pembukaannya beliau menyampaikan, “Kunci komunikasi adalah dengan membangun relasi”. Dengan demikian, beliau berharap bahwa setelah kegiatan ini akan terjalin relasi baik antara UPT P2KK maupun para peserta dengan komunitas Kalimetro ini. Beliau juga mengisyaratkan bahwa diskusi-diskusi semacam ini, yaitu diskusi diluar kegiatan keakademikan perlu untuk rutin dilaksanakan sebagai bentuk pengembangan diri serta ketajaman intelektual dan sikap sosial sebagai mahasiswa dan generasi muda umumnya.

Foto Bapak Lutfi J. Kurniawan, S. Sos (kiri) dan Bapak Dr. Khozin, M. Si (kanan) saat memimpin pelaksanaan diskusi. (Dokumen penulis)

Selanjutnya, sesi diskusi bersama dibina oleh Bapak Lutfi J. Kurniawan, S. Sos selaku direktur atau kepala komunitas ini. Beliau yang juga berperan sebagai penginisiasi berdirinya MCW (Malang Corruption Watch) ini dengan senang hati membagikan pengalaman hidupnya sewaktu masih menuntut ilmu sebagai mahasiswa hingga sekarang. Beliau menyampaikan bahwa kepekaan sosial adalah sesuatu yang mahal dan tidak mudah didapatkan, apalagi hanya mengandalkan seberkas ijazah tanda tamat belajar. Kepekaan sosial tersebut dapat lahir dan terbangun dari sikap kita yang menekan ego dan mau terjun langsung merasakan bagaimana sulitnya hidup orang lain yang tak seberuntung kehidupan kita.

Pada kesempatan yang sama, beliau juga menceritakan bahwa beliau juga mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum), yang mana sering ditemukannya kondisi yang amat menyesakkan dada tatkala mendengar bagaimana anak-anak tersebut harus bekerja sebagai pencuri akibat kehidupan yang liar dan jauh dari kasih sayang orang tua. Bahkan sebagian dari ABH tersebut mengaku mengalami trauma psikis akibat KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) yang mereka alami. Pada akhir sesi diskusi ini, pria yang akrab dipanggil Pak Lutfi ini mengajak kepada para peserta untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan literasi, sosial, dan politik dan membuka peluang untuk membuat study club bersama komunitas ini. “Mari (setelah ini) kita membuat study club untuk membangun kesadaran di masyarakat terhadap permasalahan-permasalahan public, termasuk kesejahteraan sosial, gerakan literasi, dan politik” ujar Pak Lutfi menutup sesi diskusi.

(tim redaksi)

Shared: