P2KK
Universitas Muhammadiyah Malang
P2KK
Universitas Muhammadiyah Malang

Artikel

Menuju Kepribadian Muslim

A. CITRA NEGATIF MENGENAI MUSLIM

Sudah demikian burukkah citra mengenai muslim di kalangan orang-orang, kelompok-kelompok masyarakat, dan bangsa-bangsa tertentu? Dan mungkin saja sampai sekarang citra serupa terdapat pula pada pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok masyarakat di lingkungan yang lebih luas lagi di mana Muslim dan Islam dikaitkan dengan terorisme dan peristiwa-peristiwa berdarah, fanatisme dan ekslusivisme dengan segala kebringasan dan kebrutalannya, penghuni peta keterbelakangan dan kemiskinan. Atau sebaliknya dihubungkan dengan kemewahan petro-dolar yang seakan-akan tak mengacuhkan kemelaratan dan kebodohan yang melanda sebagian umat Islam di dunia dewasa ini, dan citra-citra lainnya yang memalukan.

Andaikata benar-benar ada citra serupa itu kita tak perlu menjadi “bringas” dan mencari kambing hitam serta menyalahkan situasi, sistem, dan ideologi pihak-pihak lain. Suatu hal yang sama sekali tak ada manfaatnya untuk mengubah citra menjai lebih baik! Kiranya akan jauh lebih bermanfaat bila kita mencoba menelusuri sebab-sebab terbentuknya citra negatif mengenai kaum Muslimin, kemudian memikirkan cara-cara mengubah citra itu.

Citra buruk, menurut para pakar Psikologi biasanya bersumber dari persepsi yang salah, prasangka buruk yang diwariskan terus-menerus, perbedaan dan pertentangan nilai-nilai dan kepentingan, dan kebencian mendalam kepada Islam dan kaum Muslimin, atau pengalaman berhubungan dengan beberapa “muslim” yang memang buruk pekertinya kemudian disamaratakan untuk seluruh kaum Muslimin di dunia ini.

Suatu kemungkinan lain adalah kita sendiri, kaum Muslimin, tidak mampu menampilkan secara nyata identitas Muslim seperti dikehendaki al-Qur’an. Kemungkinan ini tampaknya penting dan relevan, karena masalah citra (image) senantiasa berkaitan langsung dengan cita (identitas) dan fakta (aktualitas), dalam artian gambaran mengenai kaum Muslimin berkaitan dengan gambaran ideal dan kenyataan sebenarnya mengenai kaum Muslimin sendiri. Oleh karena itu penting sekali untu memahami gambaran al-Qur’an mengenai kaum Muslimin.

B. MUSIM MENURUT CITRA AL-QUR’AN

Muslim menurut citra al-Qur’anul Karim antara lain sebagai berikut:

1. Keimanan kaum Muslimin

Orang Muslim adalah orang-orang yang cinta sekali kepada Allah (S.2 :165) dan beriman kepada semua Nabi (S.2 : 136), mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2 : 194). Iman mereka mantap, tujuan hidupnya menegakkan Tauhid, dengan senantiasa mengabdi dan beribadah kepada Allah (S.3 : 31); (S.51 : 56; S.98 :5).

2. Umat yang diunggulkan dan mendapat pimpinan Tuhan

Mereka adalah umat terbaik (S.3 : 109) dan yang diunggulkan (S.2 : 143; S.3 ; 25-26), yang dijadikan pemenang (S.29 : 58-59) dan dijanjikan kemenangan (S.2 : 115), dilindungi Allah (S.2 : 257) serta dikuatkan dengan Roh Kudus (S.5 : 56; S.32 ; 24), karena mereka sendiri mendapat petunjuk (S.6 : 90) dan mendapat pimpinan yang benar (S.36 : 21) dari Tuhan.

3. Sifat dan sikap kaum Muslim

Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2 : 177; S.5 : 1), bantu membantu dalam kebajikan dan bukan kejahatan (S.5 : 2), bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri atau golongannya (S.4 : 135), saling menghormati dengan sesama Muslim (S.49 : 11-12), bersikap jujur sekalipun lawan (S.5 : 2), bersatu (S.3 : 102), mendapat rizki yang baik (S.2 ; 172) dan hidup secara wajar (S.2 : 62; S.3 : 112), serta hebat sekali keberaniannya: pantang mundur menghadapi lawan (S.8 : 15-16), dan mendapat kemenangan sekalipun menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak (S.8 : 65-66). Terhadap orang kafir sikapnya keras dan tegas, sebaliknya dengan sesama Muslim kasih-mengasihi (S.48 : 29).

4. Sabar dan teguh menghadapi cobaan

Di lain pihak mereka tidak bebas dari cobaan dan aniaya: mereka akan mengalami cobaan-cobaan Tuhan berupa malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan sebagai penguji iman mereka (S.2 :214), berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan pangan (S.2 :155). Orang-orang Muslim mungkin pula mengalami pengusiran dan penganiayaan atau bahkan gugur di jalan Allah (S.3 :194, tetapi mereka tetap teguh hati dan tawakal kepada-Nya (S.29 : 10; S.2 : 156) karena mereka mendapat penghiburan dari Tuhan sebagai ganjaran atas kesabaran mereka (S.2: 155).

Gambaran di atas merupakan sebagian dari citra mengenai kaum Muslimin menurut al-Qur’an yang menunjukkan betapa luhur dan mantapnya pribadi Muslim yang diunggulkan dan dimuliakan di antara sesama manusia (S.2 :25)!

C. RENTANG POLARISASI

Muslim berdasarkan al-Qur’an menggambarkannya sebagai “orang-orang yang kuat, unggul dan terpuji”. Sekalipun kedua citra tentang Muslim itu bertentangan satu sama lain, tetapi keduanya tak dapat dipisahkan karena sama-sama menyangkut kondisi kaum Muslimin. Bahkan ditinjau dari sudut pengembangan pribadi keduanya merupakan suatu rentang polarisasi, dalam artian di antara kutub “Muslim serba lemah” dengan kutub “Muslim serba unggul” terdapat peringkat-peringkat Muslim lainnya dalam posisi masing-masing. Di samping itu pengembangan pribadi Muslim berlangsung dari posisi Muslim yang lebih lemah berkembang ke arah posisi musllim yang lebih unggul. Dan untuk itu langkah awal pengembangan pribadi Muslim adalah menyadari diri dan posisi citra diri sendiri dalam rentang polarisasi di antara kedua kutub tersebut.

D. CITRA DIRI

Citra diri (self image) atau konsep diri (self concept) adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri. Walaupun citra diri mempunyai subjektivitas yang tinggi, tetapi hal itu merupakan salah satu unsur penting dalam proses pengembangan pribadi. Citra diri yang positif akan mewarnai pola sikap, cara berpikir, corak penghayatan, dan ragam perbuatan yang positif pula, demikian pula sebaliknya. Seseorang yang memandang dirinya cerdas misalnya, akan bersikap, berpikir, merasakan dan melakukan tindakan-tindakan yang dianggapnya cerdas (Sekalipun orang-orang lain mungkin mengangapnya berlagak pinter!).

Harry Stack Sullivan (psikiater) dan Carl Rogers (psikolog) adalah dua pakar yang mempunyai pandangan berlainan mengenai ragam dan proses terbentuknya citra diri. Sullivan menyatakan adanya dua ragam citra diri, yaitu citra diri yang positif dan citra diri yang negatif. Citra diri yang positif terbentuk karena seseorang secara terus-menerus sejak lama menerima umpan balik yang positif berupa pujian dan penghargaan, sedangkan citra diri yang negatif dikaitkan dengan umpan balik negatif, seperti ejekan dan perendahan. Kedua umpan balik itu selalu diterima dari orang-orang sekitarnya, terutama dari mereka yang besar pengaruhnya bagi diri si penerima umpan balik (“the significant others”) yang pada akhirnya akan menumbuhkan penghayatan dan citra diri sebagai “Orang Baik” atau “Orang Buruk” yang disebut Sullivan sebagai The Good-me dan The Bad-me.

Carl Rogers berpandangan lain. Ia tak menyangkal besarnya pengaruh pangalaman dan penilaian lingkungan atas terbentuknya citra diri, tetapi prosesnya sama sekali tidak pasif. Menurut Rogers setiap manusia secara sadar atau tidak sadar akan terus-menerus menyaring dan memilih hal-hal mana yang dianggapnya penting dan bermakna untuk diinternalisasikan dan hal-hal mana yang diabaikan karena dianggap tak bermakna baginya. Di samping itu manusia dengan imajinasinya dapat membentuk gambaran mengenai dirinya seperti dicita-citakan di masa mendatang. Oleh karena itu Carl Rogers mengemukakan adanya dua ragam citra diri, yakni Citra diri aktual (The actualized self image) dan Citra diri ideal (The idealized self image).

1. Yang dimaksud dengan citra diri yang aktual adalah gambaran seseorang mengenai dirinya pada saat sekarang, sedangkan citra diri yang ideal adalah gambaran seseorang mengenai dirinya seperti yang diidam-idamkannya. Sekalipun pandangan Sullivan dengan Rogers berbeda satu sama lain, tetapi sebenarnya kedua pasangan itu dapat dipertemukan.

E. CITRA DIRI MUSLIM

Sesuai dengan pengertian citra diri seperti dijelaskan di atas, maka yang dimaksud dengan Citra Diri Muslim adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, dalam artian sejauh mana ia menilai sendiri kualitaas kemusliman, keimanan, dan kemuhsinannya berdasarkan tolak ukur ajaran agama Islam. Penilaian ini benar-benar tidak mudah dan mengandung kadar subyektivitas yang tingg, tetapi hal ini dalam agama sangat dianjurkan setiap Muslim wajib menghisab dirinya sendiri sebelum ia dihisab di Hari Akhir.
Skema paduan Sullivan – Rogers di atas dapat pula digunakan untuk mengelompokkan citra diri Muslim dengan cara mengisi kuadran-kuadrannya dengan berbagai kualitas kepribadian menurut al-Qur’an.

F. PEMAHAMAN DAN PENGEMBANGAN PRIBADI

Berbicara mengenai Citra Diri Muslim, salah satu masalah penting adalah aspek “the technical know-how”-nya, yakni bagaimana metode proses, dan tindakan-tindakan terencana untuk mengembangkan kualitas pribadi mendekati citra diri Muslim yang ideal. Untuk itu dapat dimanfaatkan prinsip-prinsip pelatihan “Pemahaman dan Pengembangan Pribadi”. Pelatihan ini pada dasarnya berupa rangkaian kegiatan untuk lebih menyadari berbagai keunggulan dan kelemahan pribadi, baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi, misalnya kemampuan, ketrampilan, sikap, sifat, dambaan, lingkungan sekitar, untuk kemudian menumbuh-kembangkan hal-hal yang positif serta mengurangi dan menghambat hal-hal negatif.
Latihan Pemahaman dan Pengembangan Pribadi dapat dilakukan secara sendirian dengan memfungsikan perenungan diri tanpa melibatkan orang lain (Solo training), dan dapat dilakukan juga dalam kelompok dengan memanfaatkan umpan balik dan dukungan orang-orang lain sesama anggota kelompok (Group training).

Ada bermacam-macam metode pemahaman dan pengembangan pribadi, antara lain adalah:

a. Pembiasaan: melakukan suatu perbuatan atau ketrampilan tertentu terus-menerus secara konsisten untuk waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Dalam psikologi proses pembiasaan disebut conditioning. Proses ini akan menjelmakan kebiasaan (habit) dan kebisaan (ability), akhirnya akan menjadi sifat-sifat pribadi (personal traits) yang terperangai dalam perilaku sehari-hari.

b. Peneladanan: mencontoh pemikiran, sikap, sifat-sifat, dan perilaku dari orang-orang yang dikagumi untuk kemudian mengambil-alihnya sebagai sikap, sifat, dan perilaku pribadi. Ada dua ragam bentuk penteladanan yaitu peniruan (imitation) dan identifikasi-diri (self identification). Peniruan adalah usaha untuk menampilkan diri dan berlaku seperti penampilan dan perilaku orang yang dikagumi (idola), sedangkan identifikasi-diri adalah mengambil alih nilai-nilai (values) dari tokoh-tokoh yang dikagumi untuk kemudian dijadikan nilai-nilai pribadi (personal values) yang berfungsi sebagai pedoman dan arah pengembangan diri.

c. Pemahaman, penghayatan, dan penerapan: Secara sadar berusaha untuk mempelajari dan memahami benar hal-hal (nilai-nilai, asas-asas, dan perilaku) yang dianggap baik dan bermakna, kemudian berusaha untuk mendalami dan menjiwainya, lalu mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

d. Ibadah: ibadah khusus seperti: shalat, puasa, dzikir, dan ibadah dalam artian umum, yakni berbuat kebajikan dengan niat semata-mata karena Allah, secarasadar atau pun tidak disadari akan mengembangkan kualitas-kualitas terpuji pada mereka yang melaksanakannya. Sebagai contoh adalah ibadah shalat dan dzikir:

Sesungguhnya shalat itu mencegah (manusia) dari perbuatan keji dan buruk; sesungguhnya ingat kepada Allah itu merupakan (kekuatan) yang paling akbar”. (QS. Al-Ankabut (29):

Keempat metode tersebut masing-masing dapat dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi dapat juga dipadukan dalam suatu paket pelatihan, misalnya paket pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”. 

G. MENUJU KEPRIBADIAN MUSLIM (Suatu Alternatif Pelatihan)

Dalam psikologi dikenal bermacam-macam pelatihan dan metode pengembangan pribadi (personal growth). Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia sebagai “ the self determining being” memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Prinsip ini tampaknya sesuai dengan prinsip mengubah nasib yang terungkap dalam QS. Ar Ra’d ayat 11:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Salah satu kegiatan pengembangan pribadi adalah pelatihan “Menemukan Makna Hidup” yang kiranya dapat dimodifikasi untuk merancang program pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”. Pelatihan “Menemukan Makna Hidup” ini didasari oleh prinsip “Panca Sadar”, yaitu:

a. Sadar akan citra diri yang diidam-idamkan.

b. Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri sendiri.

c. Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar.

d. Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi.

e. Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri teladan.

Selain prinsip-prinsip tersebut di atas dalam proses pelatihan ini perlu dipahami benar pendekatan,metode dan teknik-teknik pengembangan pribadi yang disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”, yaitu:

a. Pemahaman Diri: mengenali secara obyektif kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan diri sendiri, baik yang masih merupakan potensi maupun yang sudah teraktualisasi, untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan ditingkatkan serta kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.

b. Bertindak Positif: mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal-hal yang dianggap baik dan bermanfaat.

c. Pengakraban Hubungan: meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, ekan sekerja), sehingga masing-masing saling mempercayai, saling memerlukan satu sama lainnya, serta saling membantu.

d. Pendalaman Tri Nilai: Berusaha untuk memahami dan memenuhi tiga macam nilai yang dianggap merupakan sumber makna hidup yaitu:

i. Nilai kreatif (kerja, karya),

ii. Nilai penghayatan (kebenaran, keindahan, kasih, iman),

iii. Nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tak dapat dihindari lagi).

e. Ibadah: berusaha untu kmelaksanakan apay nnag diperintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa yang dilarangNya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasaan tnteram, mantap, dan tabah, serta tak jarang pula menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dan petunjukNya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.

Kelima metode tersebut tujuannya untuk menjajagi sumber makna hidup dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitarnya. Makna hidup ini bila ditemukan dan berhasil dipenuhi diharapkan akan mendatangkan perasaan bermakna dan bahagia yang semuanya merupakan cerminan kepribadian yang mantap dan sehat. Pendekatan ini dapat difungsikan dalam pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”.

Setelah memahami citra al-Qur’an mengenai kaum Muslimin dan memahami pula prinsip-prinsip dan metode pengembangan pribadi, maka selanjutnya terpulang kepada kita masing-masing untuk meningkatkan dan mengembangkan diri secara sadar dengan jalan mewujudkan potensi-potensi ragawi, kejiwaan, sosial, dan potensi-potensi rohani secara optimal untuk mendekati citra diri muslim yang diidam-idamkan. Mengukur kemusliman diri sendiri rasa-rasanya posisi kita ada di antara rentang polarisasi “Muslim lemah” dengan “Muslim unggul”. Insya Allah dengan usaha pengembangan pribadi, antara lain melalui pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”, kita akan menuju kutub “Muslim ideal” yang digambarkan al-Qur’an.

Bagi umat Islam usaha pengembangan pribadi ini benar-benar sudah dipermudah dengan adanya anugerah Tuhan berupa sarana-sarana yang sangat vital untuk pengembangan pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah: tuntutan al-Qur’an yang maha benar dengan al-Hadits sebagai petunjuk pelaksanaannya, ibadah-ibadah yang dapat mempertinggi derajat kerohanian, dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan panutan umat, yaitu: Nabi Muhammad SAW sendiri yang dimansyhurkan memiliki Akhlak al-Qur’an, keluhuran budi pekertinya mendapat pujian langsung dari Tuhan, dan memperbaiki akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya.

Oleh : Taufan Maulamin

Shared: